Pan Kaka Gaungkan Ekowisata Etnik Bali

USIANYA tergolong tak lagi muda, namun semangatnya membangun wisata Bali patut diacungi jempol. Program-program yang dibuatnya mendapat apresiasi dari berbagai lapisan. Tujuannya adalah satu, ingin memperkenalkan ekowisata Bali bergaya etnik ke seluruh lapisan dunia baik nasional maupun kancah internasional.

Tampak dari kejauhan sosok pria berbadan kekar, tinggi semampai dan memiliki wajah bak tamu luar negeri melambaikan tangan memberikan syarat bahwasannya ia menunggu di sana. Menggunakan pakaian coklat bercorak daun-daun, sambil menelepon melalui gawainya ia bergegas menghampiri. Inilah sosok laki-laki pendiri ekowisata Desa Abiansemal. Namanya Made Rimanta (39). Pria yang memiliki julukan Pan Kaka ini jelas bukan sembarang orang. Semangatnya dalam membangun wisata di Bali khususnya di Desa kelahirannya Abiansemal, membuat ia menjadi sosok yang bernilai di mata masyarakat.

Berawal dari kegelisahannya, saat melihat keadaan pariwisata di bagian Badung Tengah kian memprihatinkan dan semakin tenggelam bahkan bisa dikatakan belum memiliki daya tarik untuk menggait orang-orang. Dengan memiliki modal berlatar belakang pariwisata, Pan Kaka berniat membangun dunia wisata di bagian Badung Tengah, khususnya desa kelahirannya Abiansemal. Meskipun pada umumnya desa Abiansemal sudah  memiliki wisata Sangeh yang cukup dikenal, tetapi ia ingin menghidupkan kembali wisata di Abiansemal agar semakin dikenal oleh masyarakat lokal maupun non lokal dari berbagai sudut pandang wisata. Ketika itu, muncullah ide untuk merintis ekowisata Abiansemal yang diawali dengan membuat jalan usaha tani.

“Dilihat dari 2 tahun lalu terdapat sawah di Desa Subak Blahkiuh, maka saya beserta pemerintahan Kabupaten Badung dengan pemerintah Abiansemal dan Blahkiuh membuat jalan usaha tani, yang dikemas guna mengetahui rutinitas petani di sawah itu seperti apa”, tuturnya.

Tidak hanya itu saja, dengan melewati sawah yang ada di Desa Subak Blahkiuh ia juga ingin memperkenalkan desa Abiansemal yang dikemas melalui konsep Tri Hita Karana. “Dalam hal ini, memberikan gambaran Parahyangan itu dimulai dari wantilan Pura yang menjelaskan tentang pura itu sendiri seperti apa, kemudian juga kita jelaskan apa itu utama mandala, madya mandala dan nista mandala” jelas pria beralis tebal tersebut.

Memiliki latar belakang pariwisata yang ditempuh dengan mengambil jalur pendidikan di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua, Rimanta terus menerapkan ilmu dan mengasah kemampuan dalam membangun dunia wisata. Ia telah mengelilingi sebanyak 20 negara untuk belajar bagaimana cara membangun pariwisata. Pada akhirnya ia, lebih memilih untuk membangun dunia wisata di tanah kelahiranya Desa Abiansemal dibandingkan di negara-negara besar lainnya.

Lebih menariknya, setelah membuat jalan usaha tani, Made Rimanta menyulap rumahnya untuk dijadikan sebagai pelengkap obsesinya dalam mengembangkan ekowisata di Desa Abiansemal. Dibalik obsesinya, rumah itu pula dijadikan sebagai gambaran nuansa tradisi Bali yang dikemas dengan sedemikian rupa. Baik mulai dari membuat canang, membuat klangsah, membuat sate dan sebagainya sehingga di akhir sebagai penutup akan diajak untuk makan bersama versi Bali menggunakan daun dan besek. Rumah itu diberi nama Wisma Kaka.

“Karena saya merupakan seorang loyalis Soekarno pada zamannya, maka saya mengambil sejarahnya di Wisma Yaso. Maka nama Wisma kami angkat yang berarti rumah, sehingga saat orang-orang ingin belajar mengenai wisata Bali yang otentik dengan Tri Hita Karana bisa ke Wisma Kaka” ungkapnya.

Meskipun masih sangat baru, Rimanta berhasil memboyong dua grup mancanegara dari Eropa yakni Belanda dan Jerman sebagai tamu untuk memperkenalkan ekowisata Abiansemal. Menginjak 2 tahun berdirinya ekowisata Abiansemal, tak sedikit kendala yang dialami oleh pria berzodiak taurus ini. Rimanta mengatakan “Kendala tentu saja ada mulai dari fasilitas yang masih minim, dan sumber daya manusia yang belum memiliki kemampuan memandu para wisatawan. Namun, kami tidak berkecil hati malah kami akan terus mengajak mereka untuk belajar dan menyempurnakan kekurangan”.

Pelestarian ekowisata Abiansemal yang ditata oleh Rimanta tergolong masih kecil, namun ia akan selalu berusaha untuk menggaungkan dunia wisata Bali agar dikenal dalam kancah nasional maupun internasional. Rimanta meyakini bahwa sesuatu yang besar berawal dari yang kecil. (meidy)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

10,254FansLike
547FollowersFollow
343FollowersFollow

Latest Articles